Riset: PSBB di DKI Jakarta Tidak Efektif, Banyak Orang Keluar Rumah

Tim Redaksi Kumparan
May 18, 2020

DKI Jakarta menjadi salah satu daerah di Indonesia yang memiliki jumlah kasus positif COVID-19 terbanyak. Sempat dikatakan sebagai wilayah episentrum penyebaran virus corona, Jakarta menjadi kota pertama yang menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Aturan ini diberlakukan untuk menekan aktivitas warga di luar rumah. Diharapkan, physical distancing alias menjaga jarak fisik bisa terwujud lewat adanya aturan PSBB.

Namun, riset menemukan aktivitas publik di DKI Jakarta justru semakin tinggi selama masa PSBB tahap kedua yang berjalan mulai dari 24 April hingga 22 Mei 2020. Sementara itu, PSBB tahap pertama diberlakukan dari tanggal 10 sampai 24 April 2020.

Peneliti dan dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, melakukan riset terkait tren kasus corona di DKI Jakarta serta kasualitasnya dengan jumlah orang yang tetap tinggal di rumah. Data orang yang tinggal di rumah diambilnya dari Big Data Google dengan sampel penduduk Jakarta yang menggunakan perangkat Android.

Grafik kasus Corona di DKI Jakarta dan perbandingannya dengan jumlah orang yang diam di rumah. Foto: Dok. FKM UI

Dari grafik bulan Maret-April-Mei, terlihat jumlah orang yang tinggal di rumah sejak diberlakukan PSBB di Jakarta awalnya terus menanjak. Kenaikan itu juga selaras dengan penurunan laporan jumlah kasus baru COVID-19 harian.

"Bila kita memperhatikan kenaikan proporsi penduduk yang tinggal di rumah di atas 0.55, dua minggu kemudian diikuti penurunan laporan jumlah kasus per hari," kata Pandu kepada kumparan, Jumat (15/5).

Namun, kenaikan tidak berlangsung lama, memasuki PSBB fase ke-2 dan bulan Ramadhan cenderung mengalami penurunan. Akibatnya, penurunan kasus juga tertahan dan kurva mendatar.

"Tetapi kenaikan jumlah yang tinggal di rumah hanya mendekati 0.6 saja dan cenderung menurun. Maka penurunan kasus tertahan dan kurva mendatar. Selama Ramadhan juga penduduk cenderung keluar rumah, ngabuburit, dan cari takjil misalnya," ungkap dia.

Menurut Pandu, saat memasuki bulan Ramadhan, jumlah penduduk yang keluar rumah kembali meningkat tipis. Meski masih cenderung mendatar, jumlah pertumbuhan kasus positif di DKI masih belum konsisten atau fluktuatif.

Pemantauan Mobilitas Warga Jakarta di Dalam Kota

Meningkatnya aktivitas warga Jakarta juga terlihat dari pemantauan olah data CCTV dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Untuk hal ini, Pemprov DKI jakarta bekerja sama dengan Nodeflux untuk memantau mobilitas warga, baik yang berjalan kaki, maupun naik kendaraan selama penerapan kebijakan PSBB.

Kedua lembaga ini melakukan pemantauan dengan menggunakan data yang diperoleh dari sekitar 1.500 stream CCTV publik yang telah memenuhi kriteria dari total 2.672 CCTV publik yang ada di Jakarta. CCTV itu tersebar di 44 kecamatan di DKI Jakarta mulai pukul 06.00 sampai 22.00 WIB. Data diperbarui setiap satu jam sekali.

Data mobilitas warga Jakarta di dalam kota. Foto: Dok. Nodeflux dan Pemprov DKI Jakarta

Teknologi AI akan mendeteksi tiap objek orang dan kendaraan yang tertangkap CCTV. Data hasil deteksi diperoleh secara sampling dari frame CCTV dalam kurun waktu tertentu, kemudian dihitung rata-rata jumlah objek yang terdeteksi oleh AI. Dari data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kepadatan aktivitas publik dalam tiap waktu dan pada area tertentu.

Berdasarkan hasil pemantauan di situs corona.jakarta.go.id dalam tiga hari terakhir pada rentang waktu 16-18 Mei 2020, rata-rata kepadatan orang di ruang publik mencapai 600-700 orang. Artinya, masih banyak warga Jakarta yang berkeliaran di luar rumah.

Data mobilitas kendaran warga Jakarta di dalam kota. Foto: Dok. Nodeflux dan Pemprov DKI Jakarta

Pada Jumat (15/5) rata-rata 732 orang keluar rumah. Esok harinya, sedikit menurun 648 orang, kemudian meningkat pada Minggu (17/5), yaitu 747 orang. Jumlah kendaraan, baik motor, mobil, bus, dan truk yang bergerak dipantau CCTV juga cukup besar, data yang terbesar adalah kendaran mobil.

Jumlah rata-rata kendaraan yang melintas di wilayah Jakarta pada Jumat (15/5) sebanyak 256.776. kemudian Sabtu (16/5) mengalami kenaikan menjadi 250.615, lalu Minggu (17/5) kembali meningkat di angka 270.321.

Namun, data yang fantastis adalah lonjakan rata-rata kendaraan pada Rabu (13/5) mencapai 353.422. Kemudian, menurun di hari Kamis (14/5) sebesar 337.212 dan kembali naik di hari Kamis (15/5) capai 339.793 kendaraan lalu lalang di Jakarta.

News Update from Nodeflux

keep informed about our innovation and development
Let's discuss about your solution!
CONTACt US